QARYAH TAYYIBAH


Sebelum saya melaporkan apa yang saya dapatkan pada kunjungan kali ini saya akan me-refresh kembali mengenai kebudayaan dan komunikasi lintas budaya karena memang tujuan kunjungan kali ini adalah untuk tugas akhir semester yang pastinya sangat berkaitan dengan hal – hal tersebut.

 

KEBUDAYAAN

Kebudayaan merupakan sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang di pelajari, yang dibagi atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang. Pandangan itu berisi apa yang mendasari kehidupan, apa yang menjadi derajat kepentingan, tentang sikap mereka yang tepat terhadap sesuatu, gambaran suatu perilaku yang harus diterima oleh sesama atau yang berkaitan dengan orang lain ( Norhayati Ismail )
  

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Komunikasi lintas budaya terjadi diantara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaanya berbeda –Samovar an Porte

FUNGSI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

1. Menyatakan identitas sosial

2. Menyatakan Integrasi sosial

3. Menambah pengetahuan

Pendekatan yang saya gunakan disini adalah pendekatan deskriptif. Seperti kata para ahli antropologi, kebudayaan merupakan keseluruhan kompleks yang di dalamnya meliputi pengetahuan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan atau kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat. oleh karena itu cara termudah untuk menjelaskan kebudayaan adalah dengan mendeskripsikan rincian pengetahuan, seni, moral, hukum adat istiadat, dan setiap kemampuan atau kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dari kebudayaan tertentu. Berdasarkan hasil kunjungan ini saya akan mendeskripsikan rincian pengetahuan, kemampuan dan kebiasaan yang di lakukan oleh sekelompok anak – anak dari sekolah alternatif qarriyah tayyibah yang memandang bahwa pendidikan yang bisa berimplikasi pada lingkungan sekitarnya atau dapat berguna bagi orang lain itulah pendidikan yang sebenarnya, yang menjadi penting bagi mereka bukanlah ijazah tetapi bagaimana mereka dapat menggembangkan kemampuan mereka sesuai minat mereka sendiri yang tidak di dasarkan pada standar tertentu.

PENGANTAR

Hari Selasa tanggal 4 Desember 2012 saya dan teman – teman kelas Komunikasi Lintas Budaya B berkesempatan untuk mengunjungi suatu ‘’Lumbung Sumber Daya’’ tepatnya di Kel. Kalibening Kec. Tingkir Kota Salatiga Jawa Tengah. Lumbung Sumber Daya ini bernama ‘’Qaryah Thayyibah’’. saya berkumpul bersama teman – teman lain di Kantor Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi sekitar pukul 09.30, 10 menit sebelum keberangkatan tentunya keadaan kanfak sudah sangat ramai di penuhi oleh anak – anak dai kelas Komunikasi Lintas Budaya B dan pagi itu yang menjadi sie peng-ngecheck an adalah Ferdy Karel. Tepat pukul 09.50  saya dan teman – teman berangkat. Pagi itu saya naik angkot bernomer 12, di dalam angkot saya bersama teman – teman saya yaitu : Icha, Cindy, Kelly, Fanny, Sinthia, Ferdy, Stevi, Jennyfer, Bintang dan Olsen. sebelum berangkat mendadak terjadi sebuah keributan, keributan itu tidak lain adalah karena kegaduhan yang kami buat sendiri karena teman – teman saya itu ada yang merasa malu nampaknya karena naik angkot.

 

IMG08320-20121204-0950

Gambar di atas ini adalah suasana di dalam angkot yang saya naiki, terlihat ada bapak – bapak yang sedang mengatur tempat duduk supaya teman – teman lain bisa terangkut karena masih banyak yang belum naik ke angkot. Tepat pukul 10.00 saya dan teman – teman berangkat ke tempat tujuan, di dalam angkot saya dan teman saya sempat merasa sedikit pusing karena jalanannya memutar – mutar, saya dan teman – teman sampai disana pukul 10.14.

IMG08322-20121204-1015

Gambar di atas ini saya ambil sesaat setelah turun dari angkot tepatnya di dinding bagian depan tempat forum ini, saya sempat terpisah dari teman – teman saya beberapa kaki karena saya sibuk sendiri untuk mengambil foto ini, dapat dilihat bahwa papan ini seperti bendera merah putih secara sekilas.

IMG08323-20121204-1016

Gambar di atas ini adalah suasana saat saya dan teman – teman akan memasuki tempat komunitas belajar tersebut.

Sesampainya disana saya dan teman – teman di sambut dengan hangat oleh murid – murid dari sekolah alternatif ini, saya sempat berjabat tangan dengan 3 orang murid wanita di depan pintu masuk. Setelah masuk saya dan teman – teman tentunya di sambut oleh empunya ‘’Lumbung Sumber Daya’’ ini namanya adalah Pak Bahruddin. Pak Bahruddin menyuguhkan sebuah film dokumentasi mengenai qaryah tayyibah ini.

IMG08324-20121204-1018

Gambar di atas ini adalah suasana saat pemutaran film dokumentasi, film dokumentasi ini berjudul ‘’Desaku’’.

Latar Belakang Pembentukan QARYAH TAYYIBAH

Qaryah Tayyibah ini sendiri adalah sebuah sekolah alternatif di desa, bisa di bilang sekolah non-formal yang pendidikannya melatih para siswanya menjadi lebih kreatif dan mandiri dalam kehidupannya. Pendirinya adalah Bapak Bahruddin yang biasa di panggil ‘’Pakdhe’’ oleh murid – muridnya. Nama Qaryah Tayyibah yang berarti ‘’Desa yang Berdaya’’ adalah usulan dari teman beliau sendiri yang beragama katholik dan orang batak, Mulanya berawal pada saat anak beliau di terima di suatu smp negeri, karena hal itu beliau mengundang tetangga – tetangga yang mempunyai anak, sekitar 30 orang tepatnya sekitar juli 2003 untuk berdiskusi. Di dalam pertemuan itu beliau ‘’curhat’’ kepada tetangga – tetangganya bahwa beliau harus membayar uang sumbangan sebesar Rp. 750.000,- dan angka itu di rasa memberatkan bagi masyarakat yang anak nya juga akan di sekolahkan ke smp, karena masalah biaya yang berat itu maka beliau mengusulkan sebuah ide yaitu untuk membangun sekolah sendiri, pada saat ide itu muncul 18 orang menolak bahkan ada yang mencemooh , seperti ‘’memangnya bikin sekolah itu gampang’’ tetapi 12 orang lainnya menyetujui ide beliau, sebenarnya beliau hanya membutuhkan 10 orang saja untuk merealisasikan idenya itu karena jika ada 10 orang setuju maka anaknya tidak jadi di sekolahkan di smp negeri tersebut.

PAK BAHRUDDIN

sdsds

Gambar di atas adalah pak bahruddin ketika beliau masih muda.

dsdsd

Gambar di atas adalah pak bahruddin yang sekarang.

Pak Bahruddin tumbuh di lingkungan masyarakat pedesaan di Kalibening, sebuah desa di Jawa Tengah, sebuah daerah subur yang terletak di atas diantara 2 gunung berapi. Ayahnya adalah seorang pemimpin religius dan pemimpin sekolah asrama Islam tradisional. Beliau pernah menjadi mahasiswa di sebuah Universitas Agama. ‘’Saya dulu pernah kuliah di STAIN, tapi ijazahnya tidak saya ambil’’ kata beliau. Agama yang di pelajari beliau dulu adalah mengenai agama Islam.

QARYAH TAYYIBAH

ide itu pun terealisasikan, sekolah pun di mulai. Walaupun pada awal nya tidak ada fasilitas apa – apa bahkan tempatpun tidak ada, akhirnya rumah beliau lah yang digunakan untuk sekolah tersebut. Tetapi seiring berjalannya waktu bantuanpun datang, seperti bantuan layanan internet unlimited access dari ‘’Isp indonet’’ untuk membantu pembelajaran, lalu datang pula bantuan dari sebuah smp negeri untuk membantu proses belajar tetapi Pak Bahruddin merasa bahwa se akan – akan sekolah ini menjadi di atur ‘’formal’’ sedangkan maksud beliau hanyalah ingin mendirikan sekolah alternatif di desa dengan pembelajaran yang berbasis pada konteks kehidupan lokal sehingga di harapkan anak – anak dapat mandiri dalam menggembangkan kapasitas dirinya dan tertantang untuk mengelola masyarakat disekitarnya. Karena perbedaan perspektif itu maka Pak Bahruddin memutuskan untuk menyudahi bantuan itu sehingga sekolah yang tadinya terkekang dengan keformalan yang terbawa dari bantuan tadi ‘’formal’’ menjadi berganti status yaitu non-formal, tetapi ironisnya tidak semudah itu, ijin baru di keluarkan oleh Dinas Pendidikan Nasional pada tahun ke-empat semenjak berdiri dan akhirnya sekolah alternatif ini tetap lebih memilih ‘’pembelajaran komunitas’’. Perbedaan sekolah alternatif ini dengan sekolah formal sendiri adalah dari segi indikator, sekolah alternatif ini menggunakan indikator produksi yang berupa produk, yang artinya ketika anak – anak bisa menghasilkan sesuatu yang bisa di kontribusikan kepada masyarakat maka sudah di anggap berhasil sedangkan sekolah formal indikator yang digunakan adalah lulus ujian nasional. Bantuan lainpun datang lagi yaitu bantuan dana untuk pembuatan gedung dari yayasan taman bacaan senilai Rp. 150.000.000,-

Pendekatan yang digunakan oleh sekolah ini adalah : social learning dan sesuai apa yang diinginkan anak. oleh karena itu sekolah alternatif ini menjadi unik karena proses belajar di tentukan oleh siswa sendiri dalam bentuk forum – forum seperti forum teater, forum melukis, forum film, dsb, tetapi tetap di sertai oleh pendamping ( guru ). Jumlah guru yang mengajar sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar di antaranya para aktivis petani. Penentuan proses belajar ini dilakukan pada pertemuan yang dinamakan ‘’Upacara’’, upacara yang dimaksudkan disini bukanlah upacara bendera tetapi pertemuan dimana siswa – siswi menentukan forum apa yang ingin dia ikuti. Forum – forum ini dapat berkembang sesuai keinginan siswa. Setelah para siswa – siswi memilih forum – forum yang mereka minati, pertemuan Upacara berikutnya di lakukan untuk sharing, masing – masing anak menyampaikan apa yang di targetkan dalam minggu ini dan menyampaikan pula penggalaman – penggalamannya selama belajar satu minggu ini sehingga siswa – siswi dari forum – forum yang berbeda dapat mengetahui apa yang dipelajari dari forum – forum lain. Upacara disini biasanya dilakukan setiap hari senin. Pada setiap hari senin juga murid – murid melakukan kerja bakti seperti mengolah lahan, saya sempat melihat dari film dokumentasi yang di tayangkan di sana pada saat saya datang, dari film itu terlihat bagaimana murid – murid disana baik laki – laki maupun perempuan terjun langsung ke lumpur untuk mengolah lahan.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah ini sekarang menggunakan gedung yang dananya dari bantuan Yayasan Taman Bacaan, gedung ini berlantai 4. ternyata desain gedung ini sendiri adalah hasil rancangan dari murid sekolah alternatif ini, karya lainnya adalah film dokumentasi berjudul ‘’Desaku’’ yang diputarkan di awal kunjungan, lalu pembuatan video klip lagu. Pembuatan video klip lagu dan film juga di kerjakan sendiri oleh siswa – siswi dari pasca produksi sampai produksi.

Saya juga sempat mengabadikan beberapa karya – karya murid – murid di sekolah ini, berikut adalah sebagaian kecil dari karya – karya mereka :

IMG08337-20121204-1152

IMG08338-20121204-1153

IMG08339-20121204-1154

IMG08336-20121204-1151

IMG08342-20121204-1155

Salah satu murid di sekolah alternatif ini yang bernama Fina pernah mendapatkan penghargaan dari sebuah yayasan, Fina sendiri adalah murid pertama di sekolah alternatif ini. Fina bercita – cita untuk menjadi penulis skenario. Di sekolah alternatif ini siswa – siswi bisa membuat novel dan menerbitkannya sendiri. di setiap bulannya sekolah alternatif ini menerbitkan news letter bernama ‘’Ilalang’’ yang halamannya berjumlah 20. pada awal – awalnya nya sekolah alternatif ini masih memiliki sedikit murid yaitu sekitar 45 orang tetapi seiring dengan berjalannya waktu murid sekolah ini sudah mencapai 150orang dan bahkan murid di sekolah alternatif ini sering memenangkan kejuaraan nasional. Sekolah alternatif ini sendiri juga sering mendapatkan penghargaan. Banyak juga orang – orang dari luar negeri yang berkunjung ke sekolah ini.

IMG08340-20121204-1154

Gambar di atas ini adalah gambar thropy – thropy yang di miliki oleh sekolah alternatif ini, dapat dilihat pula di bawahnya ada buku – buku yang biasa digunakan untuk menunjang proses belajar.

IMG08341-20121204-1155

Gambar di atas ini adalah salah satu plakat dari lembaga yang pernah berkunjung ke sekolah ini.

Mengenai pendanaan di sekolah ini pun unik sekali, pertama – tama Pak Bahruddin meminta orang tua murid untuk berkumpul membicarakan perihal kelengkapan fasilitas dan sekarang disepakati bahwa siswa – siswi membayar Rp. 6000,- per bulan. Di dalam penggembangan sekolah ini ternyata di sadari bahwa proses belajar membutuhkan komputer lalu akhirnya per anak menabung Rp. 3000,- per hari, tetapi uang tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk keperluan membeli komputer, tetapi juga untuk keperluan lain. Rp. 1000,- digunakan untuk menabung guna membeli komputer, Rp. 1000,- lagi untuk menabung guna keperluan membeli gitar, kamus, buku dan Rp. 1000,- lainnya masih di bagi menjadi 2 yaitu Rp. 500,- an, Rp. 500,- untuk iuran membeli susu sapi dan makanan ringan. Setelah mendengar penjelasan beliau saya benar – benar merasa tertarik karena beliau bisa memberdayakan sumber daya yang seadanya dan itu membuat saya berpikir bahwa ketika kita mempelajari sesuatu jangan terkekang oleh keadaan yang apa adanya tetapi tugas kita adalah mensyukurinya dan menggembangkan hal kecil itu menjadi sesuatu yang luar biasa. saya ingat juga apa yang dikatakan oleh beliau yaitu definisi orang baik adalah orang yang bisa berkontribusi dan orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sewaktu akan pulang dari sana saya menyempatkan diri untuk berkenalan dan berbincang – bincang dengan beberapa murid disana yaitu Fani dan Nuri.

IMG08343-20121204-1157

Gambar di atas ini adalah gambar siswa – siswi sekolah alternatif ini.

Fani sendiri adalah adalah siswi dari sekolah ini, umurnya 15 tahun. dia sudah bersekolah di sekolah alternatif ini selama 4 tahun yakni semenjak smp kelas 1 sampai sma kelas 1. Saya sempat bertanya apa alasan dia memilih sekolah ini : ‘’kalo aku si karena tertarik aja dan temen – temenku juga banyak yang disini’’ katanya. Dia mengikuti beberapa forum yakni teater, musik dan melukis. Saya juga sempat bertanya beberapa hal lain kepadanya yaitu :

1. Apakah ada batas minimal untuk mengambil forum?
Jawaban : tidak ada batas minimal, setiap anak boleh mengikuti berbagai forum yang mereka minati asalkan tidak bertabrakan dengan forum lain.

2. Biasanya karya yang berupa film ditampilkan dimana?
Jawaban : kalau film sih biasanya di tampilakan waktu kelas.

3. Biasanya kelas – kelas itu berlangsung berapa jam?
Jawaban : satu sampai dua jam.

4. Di sekolah ini kan ada 4 lantai, masing – masing lantai fungsinya untuk apa saja?
Jawaban : lantas satu untuk aula, lantai 2 untuk tamu yang menginap, lantai 3 dan 4 belum difungsikan.

5. Kapan hari libur setiap minggunya?
Jawaban : kalau hari libur sih tetap hari minggu.

IMG08344-20121204-1204

Gambar di atas ini adalah gambar saya dengan Fani.

Saya juga berkenalan dengan Nuri, Nuri berumur 17 tahun, alasan kenapa dia ingin sekolah disini karena tertarik dengan sekolah ini, Nuri sudah bersekolah di sekolah alternatif ini selama 3 tahun. Hanya hal itu saja yang sempat saya tanyakan kepadanya karena sudah keburu mau pulang.

Komunikasi lintas budaya terjadi diantara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaanya berbeda. Komunikasi lintas budaya disini terjadi di antara saya dan Pak Bahruddin serta siswa – siswi di qaryah tayyibah. Komunikasi lintas budaya disini memiliki beberapa fungsi :

1. Menyatakan Identitas Sosial
Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahu identitas diri maupun sosial. Di saat kunjungan ini Pak Bahruddin selaku pendiri qaryah tayyibah membawakan materi dengan sangat fasih secara verbal maupun non verbal dan gaya bahasanya baik dan ternyata setelah salah satu teman saya bertanya kepada beliau ternyata beliau pernah menjadi mahasiswa. Secara tidak langsung gaya berbahasa yang baik oleh Pak Bahruddin menunjukkan tingkat pendidikan beliau.

2. Menyatakan Intergrasi sosial
Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi, antar kelompok namun tetap mengakui perbedaan – perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Di dalam kunjungan ini setelah saya menyimak penjelasan dari bapak bahruddin mengenai sekolah alternatif qaryah tayyibah saya secara pribadi menerima kesatuan bahwa tujuan dari qaryah taribah ini adalah untuk mendidik anak – anak sama seperti sekolah – sekolah biasa yang bertujuan untuk mendidik tetapi saya tetap mengakui bahwa memang sekolah alternatif ini adalah sekolah non-formal yang pendekatannya adalah pembelajaran sosial dengan langsung terjun ke masyarakat dan lebih cenderung ke kegiatan yang melibatkan aktivitas motorik bukan kognisi seperti sekolah – sekolah formal kebanyakan.

3. Menambah pengetahuan
kunjungan ini jelas saya mendapatkan pengetahuan baru yaitu bagaimana cara qaryah tayyibah mendidik siswa – siswinya yaitu dengan sarana forum – forum yang juga berasal dari keinginan anak sendiri. lalu bagaimana dengan sarana yang seadanya dan bajet yang seadanya bisa di olah secara baik sehingga membuahkan hasil yang maksimal.

IMG08335-20121204-1150

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s